Selasa, 12 Januari 2016



BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Indonesia merupakan Negara yang memiliki keanekaragaman hayati yang melimpah baik flora maupuan fauna, keanekaragaman hayati dapat memberikan manfaat  bagi masyarakat, diantaranya dapat memenuhi kebutuhan manusia yang mengandung protein, karbohidrat, lemak, vitamin dan mineral. Protein sebagai salah satu sumber pembagun tubuh dapat berasal dari tumbuhan (nabati) dan hewan (hewani).
Dalam mengetahui klasifikasi, taksonomi, kekerabatan dan asal-usul suatu makhluk hidup diperlukan sistematika. Disini kami khusus mempelajari tumbuhan Cryptogamae. Tumbuhan Cryptogamae adalah tumbuhan tingkat rendah yang alat perkembiakannya tersembunyi dan reproduksinya dengan spora. Sehingga sistematika yang kami pelajari yaitu sistematika Tumbuhan Cryptogamae. Sistematika Tumbuhan Cryptogamae yaitu di dalamnya terdapat klasifikasi, taksonomi, kekerabatan, asal-usul tumbuhan Cryptogamae. Ilmu yang mempelajari teori dan prinsip, prosedur dan peraturan klasifikasi disebut dengan toksonomi.
Tumbuhan talus ialah tumbuh tumbuhan yang belum dapat dibedakan dalam tiga bagian utamanya, yang disebut akar, batang dan daun. Tubuh yang berupa talus itu mempunyai struktur dan bentuk dengan variasi yang sangat besar. Tumbuhan yang memiliki ciri utama berbentuk talus dimasukkan ke dalam Divisi Thallophyta.
Untuk mempelajari  Sistematika Tumbuhan Cryptogamae yang dalam hal ini Divisi Algae, Bryophyta, Pterydophyta dan lichen  baik secara morfologi maupun habitat, perlu diadakannya pengamatan secara langsung terhadap objek yang akan diteliti dengan Praktik Kerja Lapangan, sehinggga mahasiswa dapat lebih mudah untuk mengidentifikasi baik ciri–ciri mofologi (penampakan luar) maupun habitatnya.Hal inilah yang melatar belakangi dilakukanya praktikum ini.
1.2 Tujuan
Adapun tujuan dari praktikum ini adalah sebagai berikut :
1.    Untuk megetahui dan mengidentifikasi ciri-ciri, habitat, serta mengklasifikasi tumbuhan Jamur.
2.    Untuk megetahui dan mengidentifikasi ciri-ciri, habitat, serta mengklasifikasi tumbuhan lumut.
3.    Untuk megetahui dan mengidentifikasi ciri-ciri, habitat, serta mengklasifikasi tumbuhan alga.
4.    Untuk megetahui dan mengidentifikasi ciri-ciri, habitat, serta mengklasifikasi tumbuhan paku.
5.    Untuk megetahui dan mengidentifikasi ciri-ciri, habitat, serta mengklasifikasi tumbuhan Lichen.
1.3 Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah yang didapatkan dalam praktikum ini adalah sebagai berikut :
1.      bagaimana cara mengetahui dan mengidentifikasi ciri-ciri, habitat, serta mengklasifikasi tumbuhan Jamur.
2.      bagaimana cara mengetahui dan mengidentifikasi ciri-ciri, habitat, serta mengklasifikasi tumbuhan Lumut.
3.      bagaimana cara mengetahui dan mengidentifikasi ciri-ciri, habitat, serta mengklasifikasi tumbuhan alga.
4.      bagaimana cara mengetahui dan mengidentifikasi ciri-ciri, habitat, serta mengklasifikasi tumbuhan paku.
5.      bagaimana cara mengetahui dan mengidentifikasi ciri-ciri, habitat, serta mengklasifikasi tumbuhan Lichen.

1.4 Manfaat
            Adapun Manfaat dari praktikum lapangan ini adalah sebagai berikut :
1.    Manfaat yang saya dapatkan pada praktikum ini adalah, saya lebih mengenal berbagai jenis – jenis tumbuhan tingkat rendah yang mewakili disetiap divisi.
2.    Manfaat yang didapatkan masyarakat ketika kami melakukan praktikum lapangan ini adalah masyarakat lebih mengetahui berbagai macam tumbuhan tingkat randah yang dapat dikonsumsi, salah satunya jamur kuping.
3.    Manfaat yang didapatkan instansi terkait adalah mereka dapat meneliti lebih dalam tentang tumbuhan tingkat rendah yang ada pada daerah ini.




















BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Botani tumbuhan rendah adalah ilmu yang mempelajari jenis - jenis tumbuhan tingkat rendah yang meliputi Alga, Jamur, Paku, Lumut dan Lichen. Tumbuhan tingkat rendah secara umum beroproduksi secara seksual dan aseksual ( membentuk spora ) ( Anonim, 2011).
Alga berukuran beragam dari beberapa mikrometer sampai bermeter-meter panjangnya. Organisme ini mengandung klorofil serta pigmen- pigmen lainnya. Algae hidup di air. Algae renik yang terapung-apung merupakan bagian dari fitoplankton (flora laut tersuspensi). Dan berguna sebagai sumber makanan yang penting bagi organisme lain. Algae berkembangbiak secara seksual. Algae mempunyai peranan dalam kehidupan yaitu sebagai suplemen makanan kesehatan, sebagai bahan makanan, untuk membuat agar-agar, menghasilkan iodium, bahan membuat kapsul, dan bahan membuat es krim (Pleczar 1989).
Algae termasuk golongan tumbuhan berklorofil dengan jaringan tubuh yang secara relatif tidak berdiferensiasi, tidak membentuk akar batang dan daun. Tubuh Algae atau ganggang secara keseluruhan  disebut dengan talus ganggang dan golongan Thallopyta yang lain dianggap sebagai bentuk tumbuhan rendah yaitu tumbuhan yang mempunyai hubugan kekeluargaan yang sangat erat dengan organisme lain yang paling primitif dan mulai muncul pertama di bumi sifat tumbuhan rendah yang memiliki stuktur yang kompleks, diperkirakan terdapat sekitar 30.0000 spesies ganggang yang tumbuh  di bumi, kebanyakan diantaranya hidup dilaut, species yang hidup  diair tawar kelihatannya mempunyai arah perkembangan yang lebih leluasa, jika dibandingkan dengan bentuk yang hidup didarat (Tjitrosoepomo, 1983).
Pada Divisi Bryophyta alat-alat kelamin yang berupa anteridium dan arkegonium, demikian pula sporogoniumnya, selalu terdiri atas banyak sel. Arkegonium adalah gametangium betina yang bentuknya seperti botol. Bagian yang lebar disebut perut, dan bagian yang sempit leher. Mikrogametangium (anteredium) adalah gametangium jantan yang berbentuk bulat atau seperti gada. Dindingnya seperti dinding arkegonium pun terdiri atas selapis sel-sel mandul. Pada Divisi Bryophyta embrio itu tumbuh menjadi suatu badan kecil yang akan menghasilkan spora, yaitu sporogonium (Kimball, 1999).
Lumut dapat tumbuh di atas tanah-tanah yang gundulyang periodic mengalami kekeringan, bahkan di atas pasir yang bergerak pun tumbuhan ini edapt hidup. Kebanyaka dari lumut-lumut daun suka akan tempat-tempat yang basah, tetapi ada p-ula yang tumbuh di tempat yang kering. Beberapa  macam di antaranya  dapat sampai berbulan-bulan menahan kekeringan sampai bertahun-tahun. Pada tempat yang kering lumut membentuk talus yang berupa bantal atau gebalan, dan di atas tanah-tanah hutan sering kali merupakan suatu lapisan yangyang menyerupai beludru. Dalam hutan-hutan di pegunungan daerah tropik  batang-batang dan cabang-cabang pohon-pohonanpenuh dengan lumut-lumut yang menempel berupa bantalan atau bergantungan dari semua bagian tanaman hingga hutan iti pohon-pohonnya seakan-akan penuh dengan lumut yang selalu mencucurkan air. Suasana dalam hutan yang demikian amat lembab, berkabut, dari itu hutan tadi sering disebut hutan lumut atau hutan berkabut (Prawirohartono, 1989).
Tumbuhan lumut (Bryophyta) termasuk tumbuhan talus. Tempat hidup di tanah yang lembab, di pohon, di batu merah. Lumut mempunyai rhizoid yang berfungsi untuk pelekat pada substrat dan mengangkut air dan unsur-unsur hara ke seluruh bagian tubuh. Lumut mengalami metagenesis. Organ kelamin jantan berupa anteredium yang menghasilkan spermatozoid dan organ betina berupa arkegonium yang menghasilkan ovum. Divisi Bryophyta dibagi menjadi tiga classis yaitu Classis Hepaticopsida (lumut hati), Classis Anthocerotopsida (lumut tanduk), dan Classis Bryopsida (lumut sejati). Classis Hepaticopsida berbentuk lembaran, mempunyai rhizoid, hidup di tempat lembab dan berair. Reproduksi seksual membentuk arkegonium dan anteredium. Classis Anthocerotpsida, hidup di temat lembab, mengalami metagenesis antara fase sporofit dan gametofit. Bryopsida hidup ditempat yang terbuka, batang tegak bercabang dan berdaun kecil. Reproduksi vegetatif dengan membentuk kuncup pada cabang batang (Haspara, 2004).
Tumbuhan paku merupakan suatu divisi yang warganya telah jelas mempunyai kormus, artinya tubuhnya dengan nyata dapat dibedakan dalam tiga bagian pokoknya, yaitu akar, batang dan daun. Namun demikian, pada tumbuhan paku belum dihasilkan biji. Seperti warga divisi–divisi yang telah dibicarakan sebelumnya, alat perkembang–biakan tumbuhan paku yang utama adalah spora. Oleh sebab itu, sementara ahli taksonomi membagi dunia tumbuhan dalam dua kelompok saja yang diberi nama Cryptogamae dan phanerogamae. Cryptogamae (tumbuhan spora) meliputi yang sekarang kita sebut dibawah nama Schizophyta, Thallophyta, Bryophyta, dan Pteridophyta. (Iqbal, 2008)
Kebanyakan paku memiliki perawakan yang khas, sehingga tidak mudah keliru dengan macam tumbuhan lain. Sebagian dari kekhasan itu adalah adanya daun muda yang menggulung yang akan membuka jika dewasa, ciri yang hamper unik ini disebut Vernasi bergelung. Sebagai akibat lebih lambatnya pertumbuhan permukaan daun sebelah atas daripada sebelah bawah pada perkembangan awalnya. Ukuran dan bentuk paku sangat bervariasi yang berkisar dari paku pohon yang dapat mencapai tinggi 5 meter, sampai paku mini berlapis tipis yang daunnya hanya selapis sel dan sering tertukar dengan lumut. Sebagai tambahan terhadap berbagai jenis terrestrial yang tampak khas, banyak paku (terutama paku sarang burung)tumbuh di atas pohon dan batu karang (Ariyanto, 2000).
Pada Pteridophyta akar tidak merupakan bagian terusan pertumbuhan dari kutub yang berhadapan dengan pucuk melainkan dari suatu bagian calon batang yang lalu membentuk akar kesamping. Karena akar tidak berkembang dari kutub akar, zigot Pteridophyta bersifat unipolar. Akar yang keluar pertama-tama tidak dominan melainkan segera disusul oleh akar-akar lain yang semuanya keluar dari batang. Pembentukan akar ini disebut homorizhi. Batang Pteridophyta bercabang-cabang menggarpu, atau jika tidak demikian maka cabang-cabang yang dikeluarkan kesamping itu tidak pernah berasal dari ketiak daun. Akar Pteridophyta telah mempunyai kaliptra, dan sel-sel kaliptranya berasal dari sel ujung juuga yang pada akar itu berbentuk tetraedik dan bersifat membelah dengan membentuk sekat-sekat yang sejuajar dengan keempat dindingnya secara berganti-ganti (Hackel, 1999).
Lycopodinae mencakup sejumlah jenis yang cukup besar dan mempunyai toleransi yang luas terhadap habitatnya. Meskipun kebanyakan merupakan penghuni khas tempat-tempat yang keteduhan dalam hutan-hutan di daerah tropika sampai kawasan sekitar kutub utara atau pada isoetales dasar-dasar danau air tawar tumbuhan ini juga terdapat di tempat-tempat yang lebih terdadah seperti seperti lahan liar dan rawa-rawa (Pollunin, 1994).
Tumbuhan paku dibagi berdasarkan ciri morfologi dan molekular. Berdasarkan klasifikasi terbaru ini, Lycophyta (rane, paku kawat, dan isoetes) merupakan tumbuhan berpembuluh yang pertama kali terpisah dari yang lain, sedangkan paku-pakuan serta tumbuhan berbiji berada pada kelompok lain. Selanjutnya terlihat bahwa semua kormofita berspora yang tersisa tergabung dalam satu kelompok besar, yang layak dikatakan sebagai anggota Divisi tumbuhan paku (Pteridophyta). Dari hasil revisi ini juga terlihat bahwa sejumlah paku-pakuan yang dulu dianggap sebagai paku primitif (seperti Psilotum) ternyata lebih dekat berkerabat dengan paku tunjuk langit (Helminthostachys), sementara paku ekor kuda (Equisetum) sama dekatnya dengan paku sejati terhadap Marchantia (Sarwuni 2003).









BAB III
METODOLOGI
3.1 Waktu dan Tempat
Adapun waktu dan tempat dilaksanakanya praktikum ini adalah sebagai berikut :
3.1.1 Daerah pengamatan untuk tumbuhan Jamur, paku, lumut dan liken.
Hari / Tanggal    : Sabtu / 07 Juni 2014
Waktu                : Pukul 01. 00 – selesai
Tempat                : Daerah Saluki, Kecamatan Lore lindu, Kabupaten Sigi.
3.1.2   Daerah pengamatan untuk tumbuhan Alga.
Hari / Tanggal    : Sabtu / 14 Juni 2014
Waktu                : Pukul 01. 00 – selesai
Tempat          : Daerah Pusentasi ( Pusat laut ), Kecamatan Banawa Tengah, Kabupaten Donggala.
3.2 Alat dan Bahan
     Adapun alat dan bahan yang kami gunakan pada praktikum ini adalah sebagai berikut :
3.2.1 Alat
- Higrometer
- Lux meter
- Termometer
- Ph Tanah
- Kertas label
- Alat penggali
- Sasak
- Koran / kertas bekas
- Amplop tanpa perekat
- Toples
- Plastik gula
3.2.2 Bahan
- Alkohol
- Air          
- Spesimen
3.3 Prosedur Kerja
Adapun prosedur kerja dilakukanya praktikum ini adalah sebagai berikut :
3.3.1 Prosedur kerja untuk spesimen jamur :
- Menyiapkan alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum ini
- Melakukan perjalanan menuju tempat penangkaran burung Maleo
- Mengukur kondisi kimia lingkungan disekitar area pengamatan
- Mengamati dan mengambil spesies jamur selama perjalanan
- Mengambil gambar spesies jamur dengan kamera
- Mengawetkan spesies jamur menggunakan alkohol
- Mengidentifikasi spesies jamur yang telah didapatkan.
- Memasukan hasil pengamatan pada table hasil pengamatan.
3.3.2 Prosedur kerja untuk spesimen Paku :
- Menyiapkan alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum ini
- Melakukan perjalanan menuju tempat penangkaran burung Maleo
- Mengukur kondisi kimia lingkungan disekitar area pengamatan
- Mengamati dan mengambil spesies Paku selama perjalanan
- Mengambil gambar spesies Paku dengan kamera
- Mengawetkan spesies Paku menggunakan alkohol
- Mengidentifikasi spesies Paku yang telah didapatkan.
- Memasukan hasil pengamatan pada table hasil pengamatan.

3.3.3 Prosedur kerja untuk spesimen Lumut :
- Menyiapkan alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum ini
- Melakukan perjalanan menuju tempat penangkaran burung Maleo
- Mengukur kondisi kimia lingkungan disekitar area pengamatan
- Mengamati dan mengambil spesies Lumut selama perjalanan
- Mengambil gambar spesies Lumut dengan kamera
- Mengawetkan spesies Lumut menggunakan alkohol
- Mengidentifikasi spesies Lumut yang telah didapatkan.
- Memasukan hasil pengamatan pada table hasil pengamatan.
3.3.4 Prosedur kerja untuk spesimen Lichen :
- Menyiapkan alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum ini
- Melakukan perjalanan menuju tempat penangkaran burung Maleo
- Mengukur kondisi kimia lingkungan disekitar area pengamatan
- Mengamati dan mengambil spesies Lichen selama perjalanan
- Mengambil gambar spesies Lichen dengan kamera
- Mengawetkan spesies Lichen menggunakan alkohol
- Mengidentifikasi spesies Lichen yang telah didapatkan.
- Memasukan hasil pengamatan pada table hasil pengamatan.
3.3.5 Prosedur kerja untuk spesimen Alga :
- Menyiapkan alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum ini
- Mengukur kondisi kimia lingkungan disekitar area pengamatan
- Mengamati dan mengambil spesies Alga di area laut Pusentasi
- Mengidentifikasi spesies Alga yang telah didapatkan.
- Mengambil gambar spesies Alga dengan kamera
- Mengawetkan spesies Alga menggunakan alkohol.
- Memasukan hasil pengamatan pada table hasil pengamatan.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Pengamatan
Adapun hasil pengamatan dalam praktikum ini adalah sebagai berikut :
4.1.1 Tabel 1.1 Kondisi fisik – kimia lingkungan disekitar area pengamatan
A. Untuk area pengmatan jamur, paku, lumut dan Lichen
No.
Parameter
Waktu
Kisaran
1.
Suhu tanah
01 : 30 - 17 : 00
800 F
2.
Suhu udara
01 : 30 - 17 : 00
34,1o C
2.
Kelembaban udara
01 : 30 - 17 : 00
61,2 %
4.
pH tanah
01 : 30 - 17 : 00
6,1
B. Untuk area pengamatan Alga
No.
Parameter
Waktu
Kisaran
1.
Suhu air
01 : 30 - 17 : 00
32,1o C
2.
Suhu udara
01 : 30 - 17 : 00
30o C
2.
Kelembaban
01 : 30 - 17 : 00
81,4 %
4.
pH air
01 : 30 - 17 : 00
8,1




4.1.2 Tabel 1.2 Hasil Pengamatan Spesimen
A. Hasil pengamatan Paku
No.
Nama / Gambar
Klasifikasi
Keterangan
1.
Description: DSC00758.jpg