BAB
I
PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang
Indonesia merupakan
Negara yang memiliki keanekaragaman hayati yang melimpah baik flora maupuan
fauna, keanekaragaman hayati dapat memberikan manfaat bagi masyarakat,
diantaranya dapat memenuhi kebutuhan manusia yang mengandung protein,
karbohidrat, lemak, vitamin dan mineral. Protein sebagai salah satu sumber
pembagun tubuh dapat berasal dari tumbuhan (nabati) dan hewan (hewani).
Dalam mengetahui klasifikasi, taksonomi,
kekerabatan dan asal-usul suatu makhluk hidup diperlukan sistematika. Disini
kami khusus mempelajari tumbuhan Cryptogamae. Tumbuhan Cryptogamae adalah
tumbuhan tingkat rendah yang alat perkembiakannya tersembunyi dan reproduksinya
dengan spora. Sehingga sistematika yang kami pelajari yaitu sistematika
Tumbuhan Cryptogamae. Sistematika Tumbuhan Cryptogamae yaitu di dalamnya
terdapat klasifikasi, taksonomi, kekerabatan, asal-usul tumbuhan Cryptogamae. Ilmu yang mempelajari teori dan prinsip, prosedur dan
peraturan klasifikasi disebut dengan toksonomi.
Tumbuhan talus ialah tumbuh tumbuhan yang belum dapat
dibedakan dalam tiga bagian utamanya, yang disebut akar, batang dan daun. Tubuh
yang berupa talus itu mempunyai struktur dan bentuk dengan variasi yang sangat
besar. Tumbuhan yang memiliki ciri utama berbentuk talus dimasukkan ke dalam Divisi Thallophyta.
Untuk mempelajari Sistematika
Tumbuhan Cryptogamae yang dalam hal ini Divisi Algae, Bryophyta, Pterydophyta
dan lichen baik secara morfologi maupun habitat, perlu diadakannya
pengamatan secara langsung terhadap objek yang akan diteliti dengan Praktik
Kerja Lapangan, sehinggga mahasiswa dapat lebih mudah untuk mengidentifikasi
baik ciri–ciri mofologi (penampakan luar) maupun habitatnya.Hal inilah yang
melatar belakangi dilakukanya praktikum ini.
1.2 Tujuan
Adapun tujuan dari praktikum ini adalah sebagai berikut :
1. Untuk megetahui dan mengidentifikasi
ciri-ciri, habitat, serta mengklasifikasi tumbuhan Jamur.
2. Untuk megetahui dan mengidentifikasi
ciri-ciri, habitat, serta mengklasifikasi tumbuhan lumut.
3. Untuk megetahui dan mengidentifikasi
ciri-ciri, habitat, serta mengklasifikasi tumbuhan alga.
4. Untuk megetahui dan mengidentifikasi
ciri-ciri, habitat, serta mengklasifikasi tumbuhan paku.
5. Untuk megetahui dan mengidentifikasi
ciri-ciri, habitat, serta mengklasifikasi tumbuhan Lichen.
1.3 Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah yang didapatkan dalam praktikum
ini adalah sebagai berikut :
1. bagaimana cara mengetahui dan
mengidentifikasi ciri-ciri, habitat, serta mengklasifikasi tumbuhan Jamur.
2. bagaimana cara mengetahui dan
mengidentifikasi ciri-ciri, habitat, serta mengklasifikasi tumbuhan Lumut.
3. bagaimana cara mengetahui dan
mengidentifikasi ciri-ciri, habitat, serta mengklasifikasi tumbuhan alga.
4. bagaimana cara mengetahui dan mengidentifikasi
ciri-ciri, habitat, serta mengklasifikasi tumbuhan paku.
5. bagaimana cara mengetahui dan
mengidentifikasi ciri-ciri, habitat, serta mengklasifikasi tumbuhan Lichen.
1.4 Manfaat
Adapun Manfaat dari praktikum
lapangan ini adalah sebagai berikut :
1. Manfaat yang saya dapatkan pada praktikum ini
adalah, saya lebih mengenal berbagai jenis – jenis tumbuhan tingkat rendah yang
mewakili disetiap divisi.
2. Manfaat yang didapatkan masyarakat ketika
kami melakukan praktikum lapangan ini adalah masyarakat lebih mengetahui
berbagai macam tumbuhan tingkat randah yang dapat dikonsumsi, salah satunya
jamur kuping.
3. Manfaat yang didapatkan instansi terkait
adalah mereka dapat meneliti lebih dalam tentang tumbuhan tingkat rendah yang
ada pada daerah ini.
BAB
II
TINJAUAN PUSTAKA
Botani tumbuhan rendah adalah ilmu yang mempelajari
jenis - jenis tumbuhan tingkat rendah yang meliputi Alga, Jamur, Paku, Lumut
dan Lichen. Tumbuhan tingkat rendah secara umum beroproduksi secara seksual dan
aseksual ( membentuk spora ) ( Anonim, 2011).
Alga berukuran beragam dari beberapa mikrometer sampai
bermeter-meter panjangnya. Organisme ini mengandung klorofil serta pigmen-
pigmen lainnya. Algae hidup di air. Algae renik yang terapung-apung merupakan
bagian dari fitoplankton (flora laut tersuspensi). Dan berguna sebagai sumber
makanan yang penting bagi organisme lain. Algae berkembangbiak secara seksual.
Algae mempunyai peranan dalam kehidupan yaitu sebagai suplemen makanan
kesehatan, sebagai bahan makanan, untuk membuat agar-agar, menghasilkan iodium,
bahan membuat kapsul, dan bahan membuat es krim (Pleczar 1989).
Algae termasuk golongan
tumbuhan berklorofil dengan jaringan tubuh yang secara relatif tidak
berdiferensiasi, tidak membentuk akar batang dan daun. Tubuh Algae atau
ganggang secara keseluruhan disebut dengan talus ganggang dan golongan
Thallopyta yang lain dianggap sebagai bentuk tumbuhan rendah yaitu tumbuhan
yang mempunyai hubugan kekeluargaan yang sangat erat dengan organisme lain yang
paling primitif dan mulai muncul pertama di bumi sifat tumbuhan rendah yang
memiliki stuktur yang kompleks, diperkirakan terdapat sekitar 30.0000 spesies
ganggang yang tumbuh di bumi, kebanyakan diantaranya hidup dilaut,
species yang hidup diair tawar kelihatannya mempunyai arah perkembangan
yang lebih leluasa, jika dibandingkan dengan bentuk yang hidup didarat
(Tjitrosoepomo, 1983).
Pada Divisi Bryophyta
alat-alat kelamin yang berupa anteridium dan arkegonium, demikian pula
sporogoniumnya, selalu terdiri atas banyak sel. Arkegonium adalah gametangium
betina yang bentuknya seperti botol. Bagian yang lebar disebut perut, dan
bagian yang sempit leher. Mikrogametangium (anteredium) adalah gametangium
jantan yang berbentuk bulat atau seperti gada. Dindingnya seperti dinding
arkegonium pun terdiri atas selapis sel-sel mandul. Pada Divisi
Bryophyta embrio itu tumbuh menjadi suatu badan kecil yang akan
menghasilkan spora, yaitu sporogonium (Kimball, 1999).
Lumut dapat tumbuh di
atas tanah-tanah yang gundulyang periodic mengalami kekeringan, bahkan di atas
pasir yang bergerak pun tumbuhan ini edapt hidup. Kebanyaka dari lumut-lumut
daun suka akan tempat-tempat yang basah, tetapi ada p-ula yang tumbuh di tempat
yang kering. Beberapa
macam di antaranya dapat sampai berbulan-bulan menahan kekeringan sampai
bertahun-tahun. Pada tempat yang kering lumut membentuk talus yang berupa bantal
atau gebalan, dan di atas tanah-tanah hutan sering kali merupakan suatu lapisan
yangyang menyerupai beludru. Dalam hutan-hutan di pegunungan daerah
tropik batang-batang dan cabang-cabang pohon-pohonanpenuh dengan
lumut-lumut yang menempel berupa bantalan atau bergantungan dari semua bagian
tanaman hingga hutan iti pohon-pohonnya seakan-akan penuh dengan lumut yang
selalu mencucurkan air. Suasana dalam hutan yang demikian amat lembab,
berkabut, dari itu hutan tadi sering disebut hutan lumut atau hutan berkabut (Prawirohartono,
1989).
Tumbuhan lumut
(Bryophyta) termasuk tumbuhan talus. Tempat hidup di tanah yang lembab, di pohon, di batu merah. Lumut mempunyai
rhizoid yang berfungsi untuk pelekat pada substrat dan mengangkut air dan
unsur-unsur hara ke seluruh bagian tubuh. Lumut mengalami metagenesis. Organ kelamin jantan berupa
anteredium yang menghasilkan spermatozoid dan organ betina berupa arkegonium
yang menghasilkan ovum. Divisi Bryophyta dibagi menjadi tiga classis yaitu Classis Hepaticopsida (lumut hati), Classis
Anthocerotopsida (lumut tanduk), dan Classis
Bryopsida (lumut sejati). Classis Hepaticopsida berbentuk lembaran, mempunyai rhizoid,
hidup di tempat lembab dan berair. Reproduksi seksual membentuk arkegonium dan
anteredium. Classis Anthocerotpsida,
hidup di temat lembab, mengalami metagenesis antara fase sporofit dan
gametofit. Bryopsida hidup ditempat yang terbuka, batang tegak bercabang dan
berdaun kecil. Reproduksi vegetatif dengan membentuk kuncup pada cabang batang
(Haspara, 2004).
Tumbuhan paku merupakan suatu divisi yang warganya telah
jelas mempunyai kormus, artinya tubuhnya dengan nyata dapat dibedakan dalam
tiga bagian pokoknya, yaitu akar, batang dan daun. Namun demikian, pada
tumbuhan paku belum dihasilkan biji. Seperti warga divisi–divisi yang telah
dibicarakan sebelumnya, alat perkembang–biakan tumbuhan paku yang utama adalah
spora. Oleh sebab itu, sementara ahli taksonomi membagi dunia tumbuhan dalam
dua kelompok saja yang diberi nama Cryptogamae dan phanerogamae. Cryptogamae (tumbuhan
spora) meliputi yang sekarang kita sebut dibawah nama Schizophyta, Thallophyta,
Bryophyta, dan Pteridophyta. (Iqbal, 2008)
Kebanyakan paku
memiliki perawakan yang khas, sehingga tidak mudah keliru dengan macam tumbuhan
lain. Sebagian dari kekhasan itu adalah adanya daun muda yang menggulung yang
akan membuka jika dewasa, ciri yang hamper unik ini disebut Vernasi bergelung.
Sebagai akibat lebih lambatnya pertumbuhan permukaan daun sebelah atas daripada
sebelah bawah pada perkembangan awalnya. Ukuran dan bentuk paku sangat
bervariasi yang berkisar dari paku pohon yang dapat mencapai tinggi 5 meter,
sampai paku mini berlapis tipis yang daunnya hanya selapis sel dan sering
tertukar dengan lumut. Sebagai tambahan terhadap berbagai jenis terrestrial
yang tampak khas, banyak paku (terutama paku sarang burung)tumbuh di atas pohon
dan batu karang (Ariyanto, 2000).
Pada Pteridophyta akar tidak merupakan bagian terusan
pertumbuhan dari kutub yang berhadapan dengan pucuk melainkan dari suatu bagian
calon batang yang lalu membentuk akar kesamping. Karena akar tidak berkembang
dari kutub akar, zigot Pteridophyta bersifat unipolar. Akar yang keluar pertama-tama tidak dominan
melainkan segera disusul oleh akar-akar lain yang semuanya keluar dari batang.
Pembentukan akar ini disebut homorizhi. Batang Pteridophyta bercabang-cabang menggarpu, atau jika tidak
demikian maka cabang-cabang yang dikeluarkan kesamping itu tidak pernah berasal
dari ketiak daun. Akar Pteridophyta telah mempunyai kaliptra, dan sel-sel kaliptranya berasal dari
sel ujung juuga yang pada akar itu berbentuk tetraedik dan bersifat membelah
dengan membentuk sekat-sekat yang sejuajar dengan keempat dindingnya secara
berganti-ganti (Hackel, 1999).
Lycopodinae mencakup sejumlah jenis yang cukup besar dan mempunyai
toleransi yang luas terhadap habitatnya. Meskipun kebanyakan merupakan penghuni
khas tempat-tempat yang keteduhan dalam hutan-hutan di daerah tropika sampai
kawasan sekitar kutub utara atau pada isoetales dasar-dasar danau air tawar
tumbuhan ini juga terdapat di tempat-tempat yang lebih terdadah seperti seperti
lahan liar dan rawa-rawa (Pollunin, 1994).
Tumbuhan paku dibagi
berdasarkan ciri morfologi dan molekular.
Berdasarkan klasifikasi terbaru ini, Lycophyta (rane, paku kawat, dan isoetes)
merupakan tumbuhan berpembuluh yang pertama kali terpisah dari yang lain,
sedangkan paku-pakuan serta tumbuhan berbiji berada pada kelompok lain.
Selanjutnya terlihat bahwa semua kormofita berspora yang tersisa tergabung
dalam satu kelompok besar, yang layak dikatakan sebagai anggota Divisi tumbuhan
paku (Pteridophyta). Dari hasil revisi ini juga terlihat bahwa sejumlah
paku-pakuan yang dulu dianggap sebagai paku primitif (seperti Psilotum)
ternyata lebih dekat berkerabat dengan paku tunjuk langit (Helminthostachys),
sementara paku ekor kuda (Equisetum) sama dekatnya dengan
paku sejati terhadap Marchantia (Sarwuni 2003).
BAB
III
METODOLOGI
3.1
Waktu dan Tempat
Adapun waktu dan tempat
dilaksanakanya praktikum ini adalah sebagai berikut :
3.1.1 Daerah
pengamatan untuk tumbuhan Jamur, paku, lumut dan liken.
Hari
/ Tanggal : Sabtu / 07 Juni 2014
Waktu : Pukul 01. 00 – selesai
Tempat : Daerah Saluki, Kecamatan Lore lindu,
Kabupaten Sigi.
3.1.2
Daerah pengamatan untuk tumbuhan Alga.
Hari
/ Tanggal : Sabtu / 14 Juni 2014
Waktu : Pukul 01. 00 – selesai
Tempat : Daerah Pusentasi ( Pusat laut ),
Kecamatan Banawa Tengah, Kabupaten Donggala.
3.2
Alat dan Bahan
Adapun alat dan bahan
yang kami gunakan pada praktikum ini adalah sebagai berikut :
3.2.1
Alat
- Higrometer
- Lux meter
- Termometer
- Ph Tanah
- Kertas label
- Alat penggali
- Sasak
- Koran / kertas bekas
- Amplop tanpa perekat
- Toples
- Plastik gula
3.2.2
Bahan
- Alkohol
-
Air
- Spesimen
3.3
Prosedur Kerja
Adapun prosedur kerja dilakukanya
praktikum ini adalah sebagai berikut :
3.3.1 Prosedur kerja untuk spesimen
jamur :
- Menyiapkan alat dan
bahan yang digunakan dalam praktikum ini
- Melakukan perjalanan
menuju tempat penangkaran burung Maleo
- Mengukur kondisi
kimia lingkungan disekitar area pengamatan
- Mengamati dan
mengambil spesies jamur selama perjalanan
- Mengambil gambar
spesies jamur dengan kamera
- Mengawetkan spesies
jamur menggunakan alkohol
- Mengidentifikasi
spesies jamur yang telah didapatkan.
-
Memasukan hasil pengamatan pada table hasil pengamatan.
3.3.2 Prosedur kerja untuk spesimen Paku
:
- Menyiapkan alat dan
bahan yang digunakan dalam praktikum ini
- Melakukan perjalanan
menuju tempat penangkaran burung Maleo
- Mengukur kondisi
kimia lingkungan disekitar area pengamatan
- Mengamati dan
mengambil spesies Paku selama perjalanan
- Mengambil gambar
spesies Paku dengan kamera
- Mengawetkan spesies
Paku menggunakan alkohol
- Mengidentifikasi
spesies Paku yang telah didapatkan.
-
Memasukan hasil pengamatan pada table hasil pengamatan.
3.3.3 Prosedur kerja untuk spesimen
Lumut :
- Menyiapkan alat dan
bahan yang digunakan dalam praktikum ini
- Melakukan perjalanan
menuju tempat penangkaran burung Maleo
- Mengukur kondisi
kimia lingkungan disekitar area pengamatan
- Mengamati dan
mengambil spesies Lumut selama perjalanan
- Mengambil gambar
spesies Lumut dengan kamera
- Mengawetkan spesies
Lumut menggunakan alkohol
- Mengidentifikasi
spesies Lumut yang telah didapatkan.
-
Memasukan hasil pengamatan pada table hasil pengamatan.
3.3.4 Prosedur kerja untuk spesimen
Lichen :
- Menyiapkan alat dan
bahan yang digunakan dalam praktikum ini
- Melakukan perjalanan
menuju tempat penangkaran burung Maleo
- Mengukur kondisi
kimia lingkungan disekitar area pengamatan
- Mengamati dan
mengambil spesies Lichen selama perjalanan
- Mengambil gambar
spesies Lichen dengan kamera
- Mengawetkan spesies
Lichen menggunakan alkohol
- Mengidentifikasi
spesies Lichen yang telah didapatkan.
-
Memasukan hasil pengamatan pada table hasil pengamatan.
3.3.5 Prosedur kerja untuk spesimen Alga
:
- Menyiapkan alat dan
bahan yang digunakan dalam praktikum ini
- Mengukur kondisi
kimia lingkungan disekitar area pengamatan
- Mengamati dan
mengambil spesies Alga di area laut Pusentasi
- Mengidentifikasi
spesies Alga yang telah didapatkan.
- Mengambil gambar
spesies Alga dengan kamera
- Mengawetkan spesies
Alga menggunakan alkohol.
-
Memasukan hasil pengamatan pada table hasil pengamatan.
BAB
IV
HASIL
DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Pengamatan
Adapun hasil pengamatan
dalam praktikum ini adalah sebagai berikut :
4.1.1
Tabel 1.1 Kondisi fisik – kimia lingkungan disekitar area pengamatan
A.
Untuk area pengmatan jamur, paku, lumut dan Lichen
|
No.
|
Parameter
|
Waktu
|
Kisaran
|
|
1.
|
Suhu
tanah
|
01 : 30 - 17 : 00
|
800 F
|
|
2.
|
Suhu
udara
|
01 : 30 - 17 : 00
|
34,1o C
|
|
2.
|
Kelembaban
udara
|
01 : 30 - 17 : 00
|
61,2 %
|
|
4.
|
pH
tanah
|
01 : 30 - 17 : 00
|
6,1
|
B. Untuk area pengamatan Alga
|
No.
|
Parameter
|
Waktu
|
Kisaran
|
|
1.
|
Suhu
air
|
01 : 30 - 17 : 00
|
32,1o C
|
|
2.
|
Suhu
udara
|
01 : 30 - 17 : 00
|
30o C
|
|
2.
|
Kelembaban
|
01 : 30 - 17 : 00
|
81,4 %
|
|
4.
|
pH
air
|
01 : 30 - 17 : 00
|
8,1
|
4.1.2 Tabel 1.2 Hasil Pengamatan
Spesimen
A. Hasil pengamatan Paku
B. Spesimen Jamur
|
No.
|
Nama / Gambar
|
Klasifikasi
|
Keterangan
|
|
1.
|
Auricularia
polytricha
![]() |
Regnum
: Fungi
Divisi : Basidiomycota
Class : Holobasidiomycetes
Ordo : Auriculariales
Family
: Auriculariceae
Genus : Auricularia
Spesies
: Auriculari
polytricha
|
Bersubstrat di batang
yang lapuk.
|
|
2.
|
Ganoderma Sp 1
![]() |
Regnum : Fungi
Division : Basidiomycota
Classis :
Agaricomycetes
Ordo :
Polyporales
Family :
Ganodermataceae
Genus :
Ganoderma
Spesies :
Ganoderma sp.
|
Bersubstrat di batang pohon yang lembab.
|
|
3.
|
Auricularia Sp
![]() |
Regnum : Fungi
Divisi : Basidiomycota
Class : Holobasidiomycetes
Ordo : Auriculariales
Family
: Auriculariceae
Genus : Auricularia
Spesies
: Auriculari Sp
|
Bersubstrat dibatang
kayu yamg tertutupi oleh tanah.
|
|
4.
|
Rigidoporus lignosus
![]() |
Regnum : Fungi
Divisi
: Mycetaceae
Kelas
: Basidiomycetes
Ordo
: Homobasidiomycetes
Famili
: Polyperales
Genus :
Rigidoporus
Spesies :Rigidoporus lignosus
|
Bersubstrat di batang
kayu yang lapuk.
|
|
5.
|
Ganoderma
Sp
2
![]() |
Regnum: Fungi
Division :
Basidiomycota
Classis :
Agaricomycetes
Ordo :
Polyporales
Family :
Ganodermataceae
Genus ;
Ganoderma
Spesies :
Ganoderma sp.
|
Bersubstrat dibatang
kayu yang lembab.
|
|
6.
|
Pleurotus
Sp
![]() |
Regnum: Fungi
divisi:
Basidiomycota
Kelas:
Homobasidiomycetes
Ordo:
Agaricales
Family:
Tricholomatacea
Genus :
Pleurotus
Spesies: Pleurotus ostreatus
|
Bersubstrat di kayu yang lembab.
|
C. Spesimen Alga
|
No.
|
Nama / Gambar
|
Klasifikasi
|
Keterangan
|
|
1.
|
Amhiroa
fragilisima
![]() |
Regnum : Plantae
divisi : Rhodophyta
Kelas : Florideophyceae
Ordo : Corallinales
Famili : Corallinaceae
Genus : Amphiroa
Spesies : Amphiroa fragilisima
|
Bersubstrat di karang.
|
|
2.
|
Eucheuma spinosum
![]() |
Regnum : Plantae
Divisi : Rhodophyta
Kelas : Rhodophyceae
Ordo : Gigartinales
Famili : Solieriaceae
Genus : Eucheuma
Spesies : Eucheuma
spinosum
|
bersubstrat dikarang.
|
|
3.
|
Eucheuma edule
![]() |
Regnum : Plantae
divisi : Rhodophyta
Kelas : Rhodophyceae
Ordo : Gigartinales
Famili : Solieriaceae
Genus : Eucheuma
Spesies : Eucheuma
edule
|
Bersubstrat pada
terumbu karang.
|
|
4.
|
Eucheuma Sp
![]() |
regnum : Plantae
divisi: Rhodophyta
Kelas : Rhodophyceae
Ordo : Gigartinales
Famili : Solieriaceae
Genus : Eucheuma
Spesies : Eucheuma
Sp
|
bersubstrat dibatu karang.
|
|
5.
|
Halimeda opuntia
![]() |
Regnum : Plantae
Divisi : Rhodophyta
Kelas : Bryyopsidophyceae
Ordo : Bryopsidales
Famili : Halimedaceae
Genus : Halimeda
Spesies : Halimeda opuntia
|
Bersubstrat
di karang ataupun pasir.
|
|
6.
|
Halmeda amulans howe
![]() |
Regnum : Plantae
Divisi : Rhodophyta
Kelas : Bryyopsidophyceae
Ordo : Bryopsidales
Famili : Halimedaceae
Genus : Halimeda
Spesies : Halimeda amulans howe
|
bersubstrat
pada karang ataupun pasir.
|
|
7.
|
Padina australis
![]() |
Regnum ;Plantae
Divisi ;Phaeophyta
Kelas :Phaeophyceae
Ordo :Dictyotales
Famili :Dictyotaceae
Genus :Padina
Spesies: Padina
australis
|
Bersubstrat di terumbu karang.
|
|
8.
|
Turbenaria conoides
![]() |
Regnum : Animalia
Divisi : Cnidaria
Kelas : Anthozoa
Ordo : Scleractinia
Famili : Dendrophylliidae
Genus : Turbinaria
Spesies : Turbinaria conoides
|
Bersubstrat di daerah rataan terumbu karang dan menempel
pada batu.
|
|
9.
|
Udotea argentea
![]() |
Regnum :
Plantae
Divisi : Chlorophyta
Kelas :Chlorophyceae
Ordo : Bryopsidales
family : Codiaceae
genus : Udotea
spesies :Udotea argentea
|
Bersubstrat di pasir.
|
D. Spesimen Lumut
|
No.
|
Nama / Gambar
|
Klasifikasi
|
Keterangan
|
|
1.
|
Plagiothecium
denticulatum
![]() |
Regnum :
Plantae
Divisi : Bryophyta
Kelas : Bryopsida
Ordo : Hypnales
family : Noctuoidea
genus : Plagiothecium
spesies:Plagiothecium
denticulum
|
Bersubstrat di batang
pohon yang lembab.
|
|
2
|
Spesies
A
![]() |
|
Bersubsrat dibatang
pohon yang lembab.
|
|
3.
|
Spesies
B
![]() |
|
Bersubstrat di pot
bunga yang ditutupi oleh tanah.
|
E. Spesimen Lichen
|
No.
|
Nama / Gambar
|
Klasifikasi
|
Keterangan
|
|
1.
|
Spesies
A
![]() |
|
Bersubstrat di batang
pohon coklat yang lembab.
|
4.1.3 Deskripsi
Adapun
deskripsi spesimen yang saya dapatkan pada praktikum lapangan ini adalah
sebagai berikut :
1.
Untuk spesimen Paku
- Asplenium nidus
Secara
umum tumbuhan ini banyak ditemukan baik di dataran rendah maupun daerah
pegunungan sampai ketinggian 2.500 m dpl., sering menumpang di batang pohon
tinggi, dan menyukai daerah yang agak lembab dan tahan terhadap sinar matahari
langsung. Pada batang ditutupi oleh sisik yang halus dan lebat, sisik batang
tumbuhan berwarna coklat. Akar spesies ini rimpang kokoh, tegak, bagian ujung
mendukung daun-daun yang tersusun roset, di bagian bawahnya terdapat kumpulan
akar yang besar dan rambut berwarna coklat, bagian ujung ditutupi sisik-sisik
sepanjang sampai 2 cm, berwarna coklat hitam. Bersubstrat pada batang kayu.
-
Phytomatasorus Sp
Jenis
paku ini mempunyai akar serabut yang menjalar keluar dari rimpangnya dinamakan
akar rizophus, batangnya tumbuh menjulang ke atas dan bentuk daun mamanjang
dengan tulang daun yang menjari.
paku ini ditemukan hidup dipohon
yang bersifat epifit, dan memiliki banyak spora pada bagian daunnya yang
akan menjadi individu baru yang melalui beberapa tahap.
2.
Untuk spesimen jamur
-
Auricularia
polytricha
Spesies
ini dikatakan jamur kuping Karen dilihat dari struktur morfologinya mirip
seperti kuping. Adapun ciri – ciri jamur ini adalah hidup sebagai saprofit dan
bersimbiosis dengan makhluk lain, bersel satu dan membentuk likin. Bereproduksi
secara aseksual yang di lakukan dengan cara membentuk tunas, sporanya terbentuk
secara seksual.
-
Ganoderma
Sp. 1
Spesies ini
ditemukan disuatu pohon dipemukiman warga yaitu pohon nangka yang lembab.
Adapun cir-ciri dari spesies ini adalah memiliki struktur tubuh yang keras,
berwarna putih dan hidup berkoloni.
-
Ganoderma
Sp.
2
jenis
jamur yang ditemukan menempel di kulit kayu yang sudah mati atau hampir melapuk
dengan ciri-ciri yaitu struktur tubuh jamur ini keras, memiliki warna mencolok
dan menarik, bagian tepi berwarna orange bagian tengah berwarna cokelat,
setelah itu semakin menengah berwarna cokelat tua. Bersubstrat pada kayu lapuk.
-
Auricularia
Sp.
Adapun ciri –
ciri jamur ini adalah hidup sebagai saprofit dan bersimbiosis dengan makhluk
lain, bersel satu dan membentuk likin. Bereproduksi secara aseksual yang di
lakukan dengan cara membentuk tunas, sporanya terbentuk secara seksual.
- Rigidoporus
lignosus
Rigidoporus lignosus atau
Jamur akar putih membentuk tubuhnya seperti kipas tebal
dengan warna dipermukaan atasnya berwarna cokelat kekuning-kuningan pucat dan
permukaan bawahnya berwarna cokelat kemerahan. Struktur serat memiliki tebal
2,8 – 4,5 μm dengan tepi agak tipis dan berwarna kuning putih. Sifat spesie
ini agak berkayu dengan zona
pertumbuhan sesuai dengan sekat yang tebal. Lignosus
atau Rigidoporus microporus jamur
yang bersifat parasit fakultatif, artinya dapat hidup sebagai saprofit yang
kemudian menjadi parasit. Jamur lignosus
atau Rigidoporus microporus tidak
dapat bertahan hidup apabila tidak ada sumber makanan. Bila belum ada inang
jamur ini bertahan di sisa-sisa tunggul.
- Pleurotus
Sp.
Pleurotus Sp.atau jamur tiram adalah
jamur pangan dari kelompok Basidiomycota dan termasuk kelas Homobasidiomycetes.
Adapun ciri-ciri umum spesies ini adalah tubuh buah berwarna putih hingga krem
dan tudungnya berbentuk setengah lingkaran mirip cangkang tiram dengan bagian
tengah agak cekung.bersubstrat pada pelepa kelepa yang sangat lembab. Di alam
bebas, jamur tiram bisa dijumpai hampir sepanjang tahun di hutan pegunungan
daerah yang sejuk. Tubuh buah terlihat saling bertumpuk di permukaan batang
pohon yang sudah melapuk atau pokok batang pohon yang sudah ditebang karena
jamur tiram adalah salah satu jenis jamur kayu. Untuk itu, saat ingin
membudidayakan jamur ini, substrat yang dibuat harus memperhatikan habitat
alaminya. Media yang umum dipakai untuk membiakkan jamut tiram adalah serbuk
gergaji kayu yang merupakan limbah dari penggergajian kayu.
3.
Untuk spesimen Alga
-
Amphiroa fragilisima
Ciri-ciri umum. Thallus bersegmen pendek, silindris di
bagian bawah dan agak gepeng di bagian atasnya. Rumpun rimbun dengan
percabangan dichotomus dan mencapai tinggi sekitar 5-10 cm. Substansi thallus
keras dan rapuh mengandung zat kapur. Tumbuh pada batu umumnya di daerah
pinggir luar rataan terumbu. Spesies ini memiliki reproduksi seksual dan
Aseksual. Reproduksi seksual yakni berlangsung secara anisogami yakni dua
peleburan sel gamet yang ukuranya tidak sama, sedangkan reproduksi aseksual
yajni membentuk spora.
-
Euchema spinosum
Spesies ini memiliki bentuk Thallus,berwarna
coklat keemasan dan
Memiliki bintil - bintil yang disebut spina. Pemanfaatan Eucheuma spinosum adalah sebagai salah satu jenis rumput laut penghasil karagenan Spesies ini Substratnya dikarang.
Memiliki bintil - bintil yang disebut spina. Pemanfaatan Eucheuma spinosum adalah sebagai salah satu jenis rumput laut penghasil karagenan Spesies ini Substratnya dikarang.
-
Euchema
edule
Spesies ini memilki Thallus silindris,
permukaan licin, gelatinaeus-cartilaginaeus, warna hijau-kuning atau
coklat-hijau. Percabangan berselang seling dengan interval yang jarang. Pada
Thallus terdapat benjolan-benjolan yang sebagian berkembang menjadi duri-duri
besar. Tempat tumbuh umumnya pada daerah-daerah yang selalu terkena gerakan
air, di bagian ujung luar terumbu, dan melekat pada batu.
-
Euchema
Sp.
Spesies ini memiliki warna kuning kscoklatan. Spesies ini
menyerupai ranting dan pada bagian permukaanya terasa licin. Secara umum
spesies ini bersubstrat dibatu karang.
-
Halimeda
opuntia
Halimeda
opuntia merupakan jenis alga hijau dengan tinggi thallus 8
cm, yang sangat kaku dan berbentuk seperti ginjal yang bercabang, berlekuk tiga
atau tumpang tindih dan tidak teratur. Helimeda opuntia banyak di jumpai
pada daerah terumbu karang yang kondisi pantainya tenang dan agak terlindung,
hidup membuat koloni atau berkelompok. Spesie ini bersubstrat di pasir.
-
Halimeda simulans howe
Spesies
ini hidup di laut dangkal dan melekat pada pasir. Spesies ini merupakan Tumbuhan
thallus yang berwarna putih kepucatan, Alat perekat berupa rhizoid dan berwarna
serta talusnya menyerupai daun. Jenis
ini pada umumnya bersubstrat pada pada pasir.
-
Padina
australis
Padina australis bernama
latin lengkap Padina australis hauck. Klasifikasi dari jenis alga ini
yaitu Kingdom Plantae, Divisi Phaeophyta, Kelas Phaeophyceae, Ordo Dictyotales,
Famili Dictyotaceae, Genus Padina, Spesies Padina australis. Spesies ini
menunjukkan ciri utama yaitu thali berukuran besar (sekitar 15 cm), membentuk
kipas dengan lebar 2 – 8 cm, dan terdapat segmen-segmen lembaran tipis (lobus)
dengan garis-garis berambut radial. Thalus Padina australis tersusun
dari epidermis dan sel parenkim. Ukuran lembaran thalus yaitu 5 – 10 cm dan
bersifat mudah robek. Warna utama adalah coklat muda kekuning-kuningan, tetapi
terkadang warnanya memutih karena adanya perkapuran di permukaan daun. Bagian
atas lobus agak melebar dengan pinggiran rata dan holdfast berbentuk cakram
kecil berserabut. Spesies ini bersubstrat pada terumbu karang.
-
Turbenaria
conoides
Spesies
ini memiliki batang silindris, tegak, kasar, terdapat bekas-bekas percabangan.
Holdfast berupa cakram kecil dengan terdapat perakaran yang berekspansi radial.
Percabangan berputar sekeliling batang utama. daun merupakan kesatuan yang
terdiri dari tangkai dan lembaran. Umumnya terdapat di daerah rataan terumbu,
menempel pada batu.
-
Udotea
arguntea
Spesies udotea argentea merupakan salah satu dari divisi chlorophyta.
memiliki warna hijau yang jelas seperti pada tumbuhan
tingkat tinggi karena mengandung pigmen klorofil a dan klorofil b.
bentuknya menyerupai kipas dan bersubstrat pada pada pasir. Ditmukan pada
kedalaman kurang lebih 8 cm pada saat air surut.
4.
Untuk spesimen lumut
-
Plagiothecium
denticulatum
Spesies
ini banyak ditemukan didaerah yang lembap dan teduh.dan ditemukan di daerah tropis atau gurun.dengan
lembaran daun yang tersusun spiral. sepintas tumbuhan tersebut tampak seperti
rumput,dan ada juga yang tampak hamparan karpet atau beledu. Spesies ini
ditemukan pada batang yang lembab.
-
Spesies A
Spesies ini ditemukan
pada sebuah pohon yang lembab dan teduh. Spesis ini memiliki permukaan seperti
jarum yang memanjang tetapi memiliki tekstur yang lembut. Spesies ini hidupnya
berkoloni.
-
Spesies B
Spesies ini ditemukan
disamping pot yang ditutupi tanah. Spesies ini hidup datanah yang lembab dan
teduh, spesies ini ditemukan dipemukiman warga.
5.
Untuk spesimen lichen
-
Spesies A
Spesies
ini bersubstrat dipohon kayu yang lembab dan teduh. Spesies ini berwarna putih
kepucatan. Spesies ini diambil kurang lebih 50 cm dari permukaan tanah.
4.2 Pembahasan
Botani tumbuhan rendah adalah ilmu yang mempelajari
jenis - jenis tumbuhan tingkat rendah yang meliputi Alga, Jamur, Paku, Lumut
dan Lichen. Tumbuhan tingkat rendah secara umum beroproduksi secara seksual
dengan cara membentuk gametofit dan aseksual membentuk spora ( Anonim, 2011).
Pada
hasil pengamatan yang kami lakukan di desa Saluki dan di pusat laut, memiliki
berbagai macam jenis tumbuhan tingkat rendah yang dapat mewakili semua divisi
dari tumbuhan tingkat rendah ini.
Adapun
jenis tumbuhan tingkat rendah yang kami teliti pada daerah Saluki yaitu
tumbuhan jamur, Paku, Lumut dan Lichen. Kami memilih daerah ini karena daerah
ini sangat cocok untuk bahan penelitian tumbuhan tingkat rendah serta tempatnya
yang lembab memungkinkan tumbuhan tingkat rendah ini berhabitat didaerah ini,
meskipun spesimen tumbuhan tingkat rendah yang lain susah ditemukan.
Adapun
jumlah spesimen yang saya dapatkan pada daerah ini adalah dua spesies paku
yaitu Asplenium nidus, spesies ini
berhabitat di kayu yang lembab spesies ini hidupnya bersoliter. Sedangkan Phytomatasorus Sp Jenis paku ini mempunyai akar serabut yang
menjalar paku ini ditemukan hidup dipohon
yang bersifat epifit.
Untuk spesimen jamur saya mendapatkan enam
spesies yang mewakili divisi ini yaitu Auriculari
polytricha spesies ini memiliki bentuk seperti telinga sehingga dikatakan
jamur kuping, spesies ini hidupnya berkoloni dan didapatkan di batang kayu yang
lapuk dan lembab. Spesies yang ke dua yaitu Ganoderma Sp 1, spesies ini memiliki struktur
yang keras hidupnya berkoloni dan berhabitat dibatang kayu yang lembab.untuk
spesies yang ketiga yaitu Ganoderma Sp 2, spesies ini memilki struktur tubuh yang keras, berwarna coklat
kehitaman, habitat spesies ini adalah dikayu yang lapuk. Untuk spesies yang ke
empat yaitu Auriculari Sp,
spesies ini berwarna putih kepucatan, habitat spesies ini yaitu pada batang
kayu yanglapuk dan tertutupi oleh tanah. Untuk spesies yang ke- lima yaitu Rigidoporus lignosus, bentuk tubuhnya seperti kipas tebal dengan warna dipermukaan atasnya
berwarna cokelat kekuning-kuningan pucat dan bersubstrat
pada batang kayu yang lapuk. Untuk
spesies yang terakhir yaitu Pleuretus Sp, ciri umum spesies ini
yaitu tubuh buah berwarna putih hingga krem dan tudungnya berbentuk setengah
lingkaran mirip cangkang tiram dan bersubstrat pada pelepa kelepa yang sangat
lembab.
Untuk
spesimen Lumut saya mendapatkan tiga spesies yang dapat mewakili divisi ini dan
ada dua spesies yang belum diketahui nama spesiesnya yaitu Plagiothecium denticulum,
ciri dari spesies ini yaitu lembaran daunya tersusun spiral .sepintas tumbuhan ini
tampak seperti rumput,dan ada juga yang tampak hamparan karpet atau beledu. Untuk
deskripsi dari spesies A adalah Spesies
ini ditemukan pada sebuah pohon yang lembab dan teduh. Spesis ini memiliki
bagian permukaan seperti jarum yang memanjang tetapi memiliki tekstue yang
lembut sedangkan untuk spesies B memiliki ciri – ciri yaitu hidupnya ditemukan
dipemukiman warga yaitu pada pot yang ditutupi oleh tanah, spesies ini berwarna
hijau terang, berukuran kecil serta memiliki permukaan yang lembut.
Untuk
spesimen Lichen saya mendapatkan satu jenis yang dapat mewakili divisi ini.
Ciri – ciri spesies yang saya dapatkan adalah memiliki warna yang putih pucat,
hidupnya berkoloni dan menempel pada batang kayu yang lembab. Pada tumbuhan
Lichen hanya didapatkan satu spesies kareana tumbuhan ini sulit dibedakan
anatara kulit kayu dengan spesies lichen ini serta memiliki bentuk ukuran yang
kecil.
Pada tumbuhan alga kami melakukan pengamatan
di pusat laut, Lokasi ini dipilih karena melihat jenis – jenis tumbuhan alga
yang banyak berhabitat dilokasi ini serta tempatnya yang strategis untuk
dijadikan lokasi penelitian. Adapun spesimen yang saya dapatkan pada divisi ini
berjumlah Sembilan spesies yang dapat mewakili divisi ini yaitu Amphiroa fragilisima, Ciri spesies ini adalah
Thallusnya bersegmen pendek, silindris di bagian bawah dan agak gepeng di
bagian permukaanya, spesies ini berhabitat di terumbu karang. Untuk spesies
yang kedua yaitu Eucheuma
spinosum,
cirri dari spesies ini adalah berwarna coklat keemasan dan
Memiliki bintil-bintil yang disebut spina substratnya dikarang. Untuk spesies yang ke tiga yaitu Eucheuma edule, cirri dari spesies ini yaitu pada bagian Thallus terdapat benjolan-benjolan yang sebagian berkembang menjadi benjolan besar substratnya pada terumbu karang. Untuk spesies yang ke empat yaitu Eucheuma Sp, Spesies ini memiliki warna kuning kscoklatan spesies ini habitatnya di terumbu karang. Untuk spesies yang ke lima yaitu Halimeda opuntia, spesies ini merupakan jenis alga hijau dengan bentuk yang sangat kaku dan berhabitat diterumbu karang. Untuk spesies yang ke enam yaitu Halimeda simulans howe, Spesies ini memiliki warna putih kepucatan hidup di laut dangkal dan melekat pada pasir. Untuk spesies yang ketujuh yaitu Padina australis, bentuk thallus spesies ini seperti kipas membentuk segment-segment lembaran tipis (lobus) dengan garis-garis berambut radial substrat spesies ini pada terumbu karang. Untuk spesies yang delapan yaitu Turbinaria conoides, spesies ini memilki batang silindris, tegak, kasar, terdapat bekas-bekas percabangan dan bersubstrat pada terumbu karang. Untuk spesimen yang terahir yaitu Udotea argentea. Spesies bentuknya menyerupai kipas, memilki warna hijau karena mengandung klorofil dan spesies ini melekat pada pada pasir.
Memiliki bintil-bintil yang disebut spina substratnya dikarang. Untuk spesies yang ke tiga yaitu Eucheuma edule, cirri dari spesies ini yaitu pada bagian Thallus terdapat benjolan-benjolan yang sebagian berkembang menjadi benjolan besar substratnya pada terumbu karang. Untuk spesies yang ke empat yaitu Eucheuma Sp, Spesies ini memiliki warna kuning kscoklatan spesies ini habitatnya di terumbu karang. Untuk spesies yang ke lima yaitu Halimeda opuntia, spesies ini merupakan jenis alga hijau dengan bentuk yang sangat kaku dan berhabitat diterumbu karang. Untuk spesies yang ke enam yaitu Halimeda simulans howe, Spesies ini memiliki warna putih kepucatan hidup di laut dangkal dan melekat pada pasir. Untuk spesies yang ketujuh yaitu Padina australis, bentuk thallus spesies ini seperti kipas membentuk segment-segment lembaran tipis (lobus) dengan garis-garis berambut radial substrat spesies ini pada terumbu karang. Untuk spesies yang delapan yaitu Turbinaria conoides, spesies ini memilki batang silindris, tegak, kasar, terdapat bekas-bekas percabangan dan bersubstrat pada terumbu karang. Untuk spesimen yang terahir yaitu Udotea argentea. Spesies bentuknya menyerupai kipas, memilki warna hijau karena mengandung klorofil dan spesies ini melekat pada pada pasir.
Setelah
melihat hasil pengamatan di Desa Saluki, di Desa ini lebih dominan ditemukan tumbuhan
Jamur dibandingkan ke tiga tumbuhan yang diteliti dilokasi ini. Mengapa
demikian karena lokasi ini sangat lembab
dan banyak ditemukan kayu lapuk tempat habitat setiap jenis jamur. Sedangkan
dipusat laut, sangat banyak tumbuhan alga yang memilki jenis – jenis yang
beragam serta hidupnya berkoloni.
BAB
V
PENUTUP
5.1
Kesimpulan
Adapun kesimpulan dari hasil pengamatan yang telah
didapatkan adalah sebagai berikut :
1. Pada praktikum lapangan ini didapatkan beberapa jenis tumbuhan
tingkat rendah yaitu Paku, jamur, alga, lumut dan lichen yang dapat mewakili
divisi ini.
2.
Spesies paku didapatkan
sebanyak 2 spesies, yaitu Phymatosorus
Sp dan Asplenium
nidus kedua spesies ini berhabitat dipohon.
3. Tumbuhan Jamur didpatkan enam spesies yaitu, Auriculari polytricha, Ganoderma sp 1, Ganoderma sp. 2, Auriculari Sp, Rigidoporus lignosus, dan pleurotus ostreatus. Secara umum tumbuhan jamur
berhabitat dikayu yang lapuk dan lembab.
4. Tumbuhan Alga didapatkan Sembilan spesies yaitu, Amphiroa fragilisima, Eucheuma
spinosum, Eucheuma edule, Eucheuma Sp, Halimeda opuntia,
Halimeda amulans howe, Padina australis, Turbinaria conoides dan Udotea
argentea umumnya spesies – spesies ini hidup
diterumbu karang dan melekat pada pasir..
5. Tumbuhan Lumut didapatkan tiga spesies yaitu, Plagiothecium denticulum,
spesies A dan spesies B. habitat umum spesies –
spesies ini ditempat yang lembab dan melekat pada batang pohon dan batu.
6. Tumbuhan lichen satu spesies yaitu, Spesies A habitatnya ditempat
yang lembab dan menempel pada kayu.
5.2
Saran
Adapun saran yang dapat diberikan adalah
adanya kerja sama antar kelompok agar praktikum dapat terlaksana dengan baik.





















Tidak ada komentar:
Posting Komentar